Tahukah Anda

No 1-5 dari 176

Mengenal Tanaman Gewang (Corypha utan)

Gewang merupakan tanaman palma yang mempunyai sifat evergreen (selalu hijau) dan toleran terhadap kekeringan. Gewang termasuk tanaman monokarpik yaitu berbunga terminal, sekali berbunga dan berbuah selama hidupnya dengan jumlah banyak. Semua bagian tanaman gewang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia.

Bungaya sebagai sumber bahan minuman sopi (tuak) atau bahan baku untuk membuat disinfektan. Batangnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan pangan alternatif. Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai atap rumah. Akarnya sebagai bahan obat batuk dan disentri.

Satu tanaman gewang dapat menghasilan ratusan ribu biji yang keras, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku potensial untuk dibuat aksesori seperti gelang, kalung, anting-anting, dan gantungan kunci. Aksesori tersebut dapat dimanfaatkan sebagai souvenir untuk wisata.

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Bungkil sawit bisa untuk pakan ternak

Bungkil Inti Sawit adalah salah satu hasil ikutan dari industri pembuatan minyak kelapa sawit yang mengandung protein, lemak, serat kasar dan kaya akan mineral. Bungkil Inti Sawit dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein dan energi untuk ternak.

Penambahan Bungkil Inti Sawit ke dalam ransum dapat menggantikan penggunaan bahan sumber protein yaitu bungkil kedelai dan DGDS. Sehingga dengan formulasi konsentrat yang mengandung Bungkil Inti Sawit dapat menurunkan biaya pakan.

Apa kata pakar dan peternak mengenai Bungkil Inti Sawit, klik di sini.

Sumber: Balitbangtan

Krisan juga bisa kena virus

Dua virus yang menyerang tanaman krisan adalah Cucumber Mosaic Virus (CMV) dan Chrysanthenum Virus-B (CVB).

Dua virus ini menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan, bahkan menyebabkan malformasi bagian-bagian tanaman seperti daun dan petal bunga.

Gejalanya, daun yang mengecil dan bulat, penghambatan atau bahkan stagnasi pertumbuhan yang jelas dan memudarnya warna (discolored) serta klorotik pada daun dan petal, disertai dengan pertumbuhan bunga yang tidak sempurna. 

Beberapa hama seperti kutu daun (Aphids) juga dikenal bisa menjadi vektor penyebaran kedua virus ini pada pertanaman.  Selain serangga dan benih sakit, virus juga dapat menular melalui alat-alat pertanian seperti pisau stek, gunting dan lain-lain.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Tanaman Hias Ini Sering Kita Temui

Schefflera actinophylla merupakan tanaman hias yang mudah dikenali. Sebagian besar batangnya tidak bercabang, bentuk daun majemuk dengan jumlah 7-12 helai, daunnya sedikit menjuntai membentuk lingkaran menyerupai payung, sehingga dikenal dengan nama umbrella tree. 
Bunga tersusun dalam bentuk klaster, berwarna merah, berjumlah 10-20, terletak pada sumbu yang menyebar menyerupai gurita, sehingga dikenal juga dengan sebutan octopus-tree (Little & Skolmen, 2003).
Pertumbuhan S. actinophylla tergolong cepat dan bahkan telah diintroduksi ke berbagai daerah tropis dan sub tropis di dunia, serta telah dinyatakan sebagai gulma (Randall, 2012).
S. actinophylla dikenal dengan nama walisongo di Indonesia, karena memiliki jumlah helaian daun kurang lebih 9. Tanaman ini dikelompokan ke dalam tanaman perdu karena memiliki batang besar dan keras serta percabangannya relatif tinggi dibandingkan dengan tanaman berupa semak (Hasyim, 2002) 
S. actinophylla menghasilkan ribuan biji yang dapat dengan mudah menyebar dengan bantuan hewan terutama burung dan kelelawar. Jenis ini memiliki daya kecambah biji yang tinggi dan mampu tumbuh di tempat yang sangat teduh dan cerah (Gucker, 2011). 
S. actinophylla mampu membentuk belukar lebat, sehingga akan mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk, membatasi ruang gerak tanaman, dan unsur hara untuk tanaman asli disekitarnya (Langeland et al., 2008). 

Selain itu, jenis ini juga memiliki jaringan perakaran yang kuat dan padat, sehingga dapat menekan pondasi bangunan dan sendi blok pipa di daerah perkotaan di Quensland bagian tenggara, New South Wales dan pulau Christmas. Tanaman ini juga merupakan gulma di negara tersebut (Queensland Department of Primary Industries and Fisheries, 2007)

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Hias

Serkap

Serkap ikan (kadang disebut serakap ikan, red) adalah alat penangkap ikan tradisional. Bentuknya mirip sangkar burung perkutut dengan alas terbuka. Ia digunakan untuk menangkap ikan di air yang dangkal atau berlumpur. Caranya dengan menyergap ikan langsung yang terlihat, lalu mengambilnya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam serkap melalui lubang besar di pangkalnya.

Serkap biasanya terbuat dari bambu yang ujungnya dibuat tajam. Beberapa bambu disusun melingkar dengan rangka—yang juga terbuat dari bambu—bulat. Untuk menyatukannya mereka diikat dengan bambu tali, rotan, atau plastik khusus. Ia biasa dijual di pasar-pasar tradisional yang terletak di kawasan rawa.

Meskipun sudah era modern, serkap ikan tradisional tersebut masih sangat diminati oleh masyarakat pedesaan. Musababnya serkap ikan murah, mudah digunakan, bahkan gampang dibuat sendiri. Soal hasil, seringkali hasil tangkapan dengan serkap tidak kalah dengan alat tangkap ikan modern.

Sumber: Balai Penelitian Lahan Rawa